Berbeda Dari Perusahaan Lain Di Asia Tenggara, Vinfast Jadi Superstruktur ASEAN Melalui Produk Kendaraan Listrik

BP

 Megatrend- Dalam kurun waktu hanya dua tahun, VinFast telah menuntaskan sebuah perjalanan yang jarang terjadi dalam sejarah industri Asia Tenggara. Dari pemain baru di panggung global kendaraan listrik, VinFast kini menjelma menjadi salah satu aktor yang turut membentuk arah baru pengembangan industri di Indonesia. Peresmian kompleks manufaktur berteknologi tinggi terbarunya menjadi pernyataan tegas atas ambisi industri Vietnam di era transformasi hijau.

Dalam konteks tersebut, seorang ekonom terkemuka Indonesia melakukan diskusi mendalam untuk menelaah perjalanan VinFast. Lebih dari sekadar menyoroti pertumbuhannya, diskusi ini juga menggali fondasi utama yang memungkinkan kebangkitan VinFast dalam waktu singkat, yakni ekosistem Vingroup.

Ekonom Indonesia, Josua Pardede, yang selama bertahun-tahun mengikuti transformasi ekonomi Vietnam serta kebangkitan perusahaan-perusahaan swasta terbesarnya, menilai Vingroup sebagai salah satu contoh paling kuat bagaimana sebuah konglomerasi di pasar berkembang mampu mengintegrasikan teknologi, pengembangan perkotaan, dan inisiatif sosial ke dalam satu kerangka strategi yang terpadu.

Dengan pengalaman puluhan tahun meneliti peningkatan kapasitas industri di berbagai negara Asia, Pardede mencatat bahwa hanya sedikit kelompok usaha di kawasan ini yang berupaya membangun sebuah ekosistem yang seluas dan saling terhubung seperti Vingroup. Hal yang paling menonjol, menurutnya, adalah kuatnya koherensi internal dalam struktur grup tersebut. Vingroup tidak beroperasi sekadar sebagai kumpulan perusahaan terpisah, melainkan sebagai sebuah “superstruktur”—sebuah ekosistem terintegrasi yang mencakup teknologi dan manufaktur, properti dan layanan, energi hijau, infrastruktur, hingga inisiatif sosial.

Yang krusial, diversifikasi ini bukanlah ekspansi tanpa arah. Setiap segmen dirancang secara sadar untuk saling memperkuat, membentuk sistem sirkular yang mampu menciptakan permintaan sekaligus menopang pasokan. “Jika kita hanya melihat VinFast, kita melihat sebuah produsen kendaraan listrik,” ujar Pardede. “Namun jika kita menarik perspektif lebih luas, terlihat desain multi-industri yang memungkinkan Vingroup memahami perilaku konsumen di berbagai titik interaksi, serta membangun sinergi yang tidak mudah ditiru.”

Menurut Pardede, model integrasi vertikal yang diterapkan Vingroup memberikan dua keunggulan utama yang sangat krusial di pasar negara berkembang, yakni skala dan kecepatan. Data yang tersedia untuk publik menunjukkan bahwa kontribusi grup ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Vietnam tergolong signifikan, menjadi ilustrasi bagaimana perusahaan swasta dapat memengaruhi perekonomian nasional ketika mampu menghubungkan berbagai sektor secara efektif.
 
Dalam konteks VinFast, integrasi tersebut memungkinkan perusahaan ini, dalam waktu relatif singkat, bertransformasi dari pendatang baru menjadi produsen kendaraan listrik global, dengan jaringan showroom dan pusat layanan yang terus berkembang di berbagai negara. Model Vingroup menyelaraskan manufaktur, teknologi, energi, properti, dan layanan dalam satu kerangka terpadu yang mendukung kecepatan eksekusi.

Untuk pasar seperti Indonesia dan India, VinFast tampaknya menerapkan strategi “perakitan lokal sebagai langkah awal”. Pendekatan ini dimulai dengan perakitan di dalam negeri, kemudian secara bertahap meningkatkan kandungan lokal untuk memanfaatkan insentif yang tersedia sekaligus mengendalikan biaya, sebelum beralih ke produksi dalam skala yang lebih besar. Di saat yang sama, perusahaan juga membangun jaringan diler guna menjangkau konsumen tanpa harus langsung mengalokasikan belanja modal awal yang sangat besar. Meski demikian, Pardede mengingatkan bahwa ujian jangka panjang dari strategi ambisius semacam ini pada akhirnya terletak pada kualitas eksekusi dan keberlanjutan finansial.

Pardede meyakini bahwa model terintegrasi Vingroup dapat menjadi rujukan yang relevan bagi Asia Tenggara, meskipun bukan cetak biru yang dapat diterapkan secara seragam. Model ini lebih tepat dipandang sebagai kerangka pembangunan yang dapat dipelajari dan disesuaikan oleh para pembuat kebijakan maupun pelaku usaha di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dalam sektor mobilitas hijau, misalnya, Vingroup berupaya membangun ekosistem yang sepenuhnya terintegrasi: VinFast sebagai produsen kendaraan listrik, VinBus untuk transportasi publik, V-Green sebagai penyedia infrastruktur pengisian daya dan energi, serta GSM yang mengembangkan model mobilitas berbasis layanan. Tujuannya bukan sekadar menjual produk individual, melainkan menciptakan ekosistem pendukung yang utuh bagi mobilitas listrik.

Dari sudut pandang ekonomi, Pardede menilai bahwa konsumen cenderung lebih cepat mengadopsi teknologi baru ketika dihadapkan pada sebuah sistem yang lengkap, bukan sekadar produk tunggal— kendaraan yang didukung oleh jaringan pengisian daya, solusi layanan, serta infrastruktur energi yang memadai.

Sementara itu, Indonesia menghadapi tantangan serius terkait kemacetan dan kualitas udara, di saat yang sama berkomitmen untuk mencapai target net-zero emissions pada 2060. Dalam konteks ini, kehadiran konglomerasi—baik domestik maupun asing—yang mampu menghubungkan teknologi, transportasi, dan energi bersih dapat menjadi katalis penting dalam mempercepat transisi hijau di kawasan ASEAN. Kuncinya, tegas Pardede, terletak pada kemampuan untuk menyesuaikan model tersebut dengan realitas lokal, khususnya dari sisi daya beli masyarakat dan kapasitas kelembagaan.

Media Indonesia kerap menyebut VinFast sebagai “kebanggaan baru Asia”, dan Pardede menilai penyematan tersebut memiliki dasar yang kuat. Ia melihat VinFast sebagai salah satu contoh paling nyata dari perusahaan Asia yang berupaya melampaui peran tradisional sebagai produsen kontrak, untuk bertransformasi menjadi pencipta teknologi sekaligus pemilik merek global.

Thailand dan Indonesia telah lama menjadi pilar utama industri otomotif konvensional di ASEAN. Sementara itu, pertumbuhan pesat Vietnam dalam beberapa tahun terakhir menambahkan dimensi baru dalam peta industri kawasan. Secara kolektif, perkembangan ini menandakan bahwa pemain-pemain baru mulai memasuki arena industri bernilai tambah tinggi.

“Ketika sebuah perusahaan dari Vietnam mampu merancang, memproduksi, dan mengekspor kendaraan listrik ke pasar global, pesan yang disampaikan jauh lebih luas,” ujar Pardede. “Ini menunjukkan bahwa Asia Tenggara tidak lagi sekadar menjadi ‘bengkel dunia’, tetapi semakin mampu melahirkan teknologi, merek, dan ekosistem industri yang terintegrasi.”

VinFast, menurut Pardede, merupakan bagian penting dari narasi tersebut. Meski demikian, penilaian akhir akan ditentukan oleh bagaimana portofolio produk, kinerja keuangan, serta tingkat kepercayaan konsumen VinFast berkembang dalam jangka panjang. Bagi Indonesia, investasi VinFast menjadi signifikan bukan hanya dari sisi bisnis, tetapi juga sebagai penanda semakin eratnya kerja sama intra-ASEAN—di mana negara-negara di kawasan mulai saling berinvestasi dalam pengembangan industri masing-masing, alih- alih semata-mata bergantung pada mitra di luar ASEAN.

Post a Comment

Previous Post Next Post