![]() |
| Dyandra |
Megatrend- IFRA Business Expo 2026 kembali menjadi ajang yang mempertemukan pelaku usaha, calon entrepreneur, hingga investor yang tengah mencari peluang bisnis. Digelar di Hall 7 ICE BSD City, Tangerang, pameran ini menghadirkan lebih dari 250 brand ternama dari berbagai sektor usaha.
Sejumlah nama besar seperti Alfamart, Alfamidi, Guardian, Apotek K-24, hingga Sour Sally turut meramaikan pameran. Kehadiran ratusan brand tersebut membuka peluang bagi masyarakat yang ingin memulai usaha melalui skema waralaba maupun kemitraan.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Iqbal Shoffan Shofwan, menegaskan pentingnya meningkatkan jumlah wirausaha di Indonesia. Menurutnya, rasio kewirausahaan nasional masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di Asia Tenggara.
"Malaysia sudah berada di angka 4,8 persen, Thailand di kisaran 4,8 sampai 5 persen, bahkan Singapura sudah mencapai 8 hingga 12 persen. Sementara rasio kewirausahaan kita baru di angka 3,29 persen," kata Iqbal dalam pembukaan IFRA Business Expo 2026.
Ia mengatakan pemerintah menargetkan rasio kewirausahaan Indonesia mencapai 10 persen pada 2045. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui penyelenggaraan pameran bisnis yang secara konsisten mendorong minat masyarakat untuk berwirausaha.
"Target kami adalah mencapai 10 persen pada 2045, dan salah satu upayanya adalah lewat pameran-pameran seperti IFRA yang konsisten mendorong minat berwirausaha," ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), Anang Sukandar, menilai banyak usaha lokal di daerah yang sebenarnya memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi waralaba.
Menurut Anang, sejumlah bisnis yang telah beroperasi lebih dari lima tahun dan memiliki basis pelanggan yang kuat hanya perlu memiliki sistem dan standar operasional yang jelas agar dapat direplikasi.
"Banyak usaha di daerah yang sudah berjalan lebih dari lima tahun dan sudah punya kepercayaan dari masyarakat sekitarnya. Usaha-usaha seperti inilah yang sebenarnya punya potensi besar untuk dikembangkan menjadi bisnis waralaba," kata Anang.
Talkshow Inspiratif untuk Perempuan, Anak Muda, hingga Pensiunan
Tak hanya menghadirkan peluang kemitraan bisnis, IFRA Business Expo 2026 juga diramaikan berbagai sesi edukatif yang menyasar beragam kalangan.
Salah satunya adalah Business Talkshow bersama Womanpreneur Community bertajuk "Dari Potensi Lokal Menjadi Dampak Global: Kisah Womanpreneur dan SDGs". Dalam sesi tersebut, Shelly dari Womanpreneur Community membagikan pengalaman mengenai bagaimana pelaku usaha perempuan dapat mengembangkan bisnis berbasis potensi lokal sekaligus memberikan dampak sosial dan lingkungan yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Rangkaian acara juga diisi dengan penganugerahan Indonesia Business Opportunity Marketing Awards (IBOMA) 2026 dari Majalah Franchise Indonesia yang memberikan apresiasi kepada berbagai brand franchise dan kemitraan berprestasi.
Beberapa penerima penghargaan antara lain BIRU untuk kategori Depo Air Minum Isi Ulang, Indomaret untuk kategori Minimarket, Shop & Drive kategori Bengkel Otomotif dan Aksesoris, Apotek K-24 kategori Apotek, serta Ray White Indonesia kategori Broker Properti.
Penghargaan lainnya diberikan kepada Martha Tilaar Salon Day Spa, Ayam Gepuk Pak Gembus, Studiorenang.com, Leit Leadership English Institute, Kebab Turki Baba Rafi, Ohayo Drawing School, dan Teh Kotjok.
Ryu Kintaro Bagikan Cara Berpikir Entrepreneur Muda
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian pengunjung adalah kehadiran Ryu Kintaro, konten kreator sekaligus pengusaha muda yang dikenal karena capaian bisnisnya di usia dini.
Bersama brand miliknya, Tjap Nyonya Kaya, Ryu membawakan sesi bertajuk "How Young Entrepreneurs Think, Build and Win". Dalam kesempatan tersebut, ia mendorong anak muda untuk berani memulai usaha tanpa terlalu takut menghadapi kegagalan.
"Dalam memulai usaha, berani aja, mulai dulu aja, jangan pernah takut. Karena semua bisnis besar hari ini mulai dari langkah kecil," ujar Ryu.
Tak hanya menyasar generasi muda, IFRA Business Expo 2026 juga menghadirkan seminar khusus bagi para pensiunan. Dalam sesi bersama Utomo Njoto, peserta diajak melihat peluang waralaba sebagai salah satu sumber pendapatan tambahan setelah memasuki masa pensiun.
Dari Salak Lokal ke Pasar Global
Dalam sesi talkshow lainnya, Shelly selaku Founder dan CEO PT Salaku Cara Enak Makan Salak sekaligus Ketua Womanpreneur Community Chapter Bekasi membagikan kisah pengembangan bisnis Salaku yang dirintis sejak 2016.
Ia menjelaskan bagaimana buah salak diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah melalui pendekatan bisnis berkelanjutan, mulai dari pemberdayaan petani lokal, penerapan prinsip zero waste, hingga perluasan pasar ke berbagai kanal distribusi.
Perjalanan Salaku dinilai menjadi contoh bagaimana potensi lokal dapat berkembang menjadi bisnis yang memiliki dampak ekonomi sekaligus sosial.
Selain itu, IFRA juga menggelar diskusi bersama The Entrepreneurs Society bertajuk "From Local Brand to World-Class Brand: What It Takes to Grow". Diskusi ini membahas strategi yang harus dipersiapkan pelaku usaha lokal untuk memperluas pasar, memperkuat identitas brand, hingga beradaptasi dengan dinamika pasar global.
Project Manager IFRA 2026, Mega Khoriani, berharap penyelenggaraan tahun ini tidak hanya menjadi ajang transaksi bisnis, tetapi juga melahirkan kolaborasi dan peluang baru bagi para peserta.
"IFRA 2026 bukan sekadar ruang pameran, melainkan titik awal lahirnya peluang-peluang baru, jaringan bisnis yang lebih luas, dan fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan bagi kita semua," kata Mega.

Post a Comment