| Pamerindo |
Megatrend- Upaya membangun ketangguhan bangsa terhadap risiko bencana dan perubahan iklim membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat. Pesan inilah yang menjadi fokus utama dalam penyelenggaraan The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR) 2026 dan Asia Disaster Management and Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) 2026 yang berlangsung di Jakarta.
Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa tantangan pembangunan saat ini tidak hanya berkaitan dengan penyusunan kebijakan baru, tetapi juga bagaimana berbagai kebijakan, institusi, mekanisme pendanaan, dan sistem perencanaan dapat bekerja secara terintegrasi untuk menghasilkan dampak yang nyata bagi masyarakat.
Resiliensi Berkelanjutan Harus Menjadi Bagian dari Pembangunan
Dalam pembukaan forum, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, menekankan bahwa resiliensi sejati lahir dari kemampuan berbagai pihak untuk bekerja secara terpadu. Menurutnya, pembelajaran dari berbagai peristiwa bencana di Indonesia menunjukkan bahwa pemulihan yang efektif hanya dapat terwujud melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, komunitas lokal, dan mitra internasional.
Ia menjelaskan bahwa perubahan iklim, risiko bencana, degradasi lingkungan, dan kerentanan ekonomi kini saling berkaitan. Namun dalam praktiknya, berbagai institusi dan instrumen pendukung masih sering berjalan secara terpisah. Karena itu, diperlukan perubahan paradigma agar resiliensi tidak lagi dianggap sebagai agenda tambahan, melainkan menjadi kualitas utama dalam setiap proses pembangunan.
Pendekatan ini dinilai penting agar perencanaan pembangunan, investasi, pembangunan infrastruktur, hingga pengukuran kinerja dapat benar-benar memperhitungkan risiko masa depan dan menciptakan masyarakat yang lebih tangguh.
GFSR 2026 Fokus pada Implementasi dan Dampak Nyata
Sebagai forum global yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, GFSR 2026 hadir untuk memperkuat pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta strategi dalam membangun ketahanan berkelanjutan. Forum ini menjadi kelanjutan dari dua penyelenggaraan sebelumnya yang telah membangun fondasi dan memperkuat dialog regional terkait resiliensi.
Pada penyelenggaraan ketiga ini, fokus diarahkan pada transformasi dari diskusi menuju implementasi konkret. Selama dua hari pelaksanaan, peserta membahas berbagai tantangan dan peluang dalam memperkuat sistem ketahanan nasional dan daerah.
Tiga Prioritas Strategis GFSR Ke-3
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Dr. Raditya Jati, menjelaskan bahwa forum ini berfokus pada tiga prioritas utama yang saling berkaitan.
1. Integrasi Arsitektur Ketangguhan
Prioritas pertama menitikberatkan pada penguatan pendekatan yang melibatkan seluruh unsur pemerintah dan masyarakat agar berbagai institusi dapat bekerja secara harmonis dan tidak berjalan sendiri-sendiri.
2. Penyelarasan Pendanaan
Prioritas kedua berupaya menghubungkan pendanaan iklim, pendanaan risiko bencana, dan pendanaan pembangunan. Integrasi pendanaan ini diharapkan mampu mendukung investasi jangka panjang yang berfokus pada pencegahan dan pengurangan risiko.
3. Mewujudkan Resiliensi Berkelanjutan
Prioritas ketiga bertujuan menerjemahkan berbagai komitmen global dan kebijakan nasional menjadi aksi nyata yang dipimpin oleh daerah dan dipercaya oleh masyarakat. Pendekatan ini memungkinkan terciptanya hasil yang lebih terukur dan relevan dengan kebutuhan lokal.
ADEXCO 2026 Tampilkan Inovasi Teknologi Manajemen Bencana
Bersamaan dengan penyelenggaraan GFSR, ADEXCO 2026 menjadi ajang pameran dan konferensi yang menampilkan berbagai inovasi dalam manajemen bencana dan perlindungan sipil di Asia. Kegiatan ini mempertemukan pemerintah, sektor swasta, akademisi, pengembang teknologi, organisasi masyarakat sipil, serta mitra internasional dalam satu ekosistem kolaborasi.
Pameran ini menampilkan solusi yang mencakup seluruh siklus penanggulangan bencana, mulai dari kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga pemulihan pascabencana. Kehadiran teknologi mutakhir diharapkan dapat memperkuat kapasitas negara dan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana yang semakin kompleks.
Tahun ini, ADEXCO mencatat partisipasi 152 perusahaan dari sembilan negara, menandakan meningkatnya perhatian global terhadap inovasi dan teknologi penanggulangan bencana.
Kolaborasi Menjadi Kunci Ketangguhan Masa Depan
Melalui GFSR Ke-3 dan ADEXCO 2026, BNPB mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kemitraan dan mempercepat aksi nyata. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, peneliti, praktisi, dan komunitas lokal dinilai menjadi faktor penting dalam membangun sistem ketahanan yang adaptif terhadap berbagai risiko di masa depan.
Sebagai bagian dari Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series 2026, kedua agenda ini diharapkan mampu menghasilkan solusi yang tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga berdampak langsung terhadap penguatan ekosistem kebencanaan dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Post a Comment