![]() |
| Kalista |
Megatrend- Dunia otomotif sering kali berasumsi bahwa mobil listrik atau Electric Vehicle (EV) hanya cocok untuk jalanan mulus perkotaan atau nongkrong di kafe kekinian. Tapi tunggu dulu! Bagaimana jika mobil listrik ini kita bawa langsung ke medan paling ekstrem di muka bumi: area pertambangan batu bara?
Bayangkan debu tebal, jalur berat, dan tuntutan kerja 24 jam non-stop. Di sinilah KALISTA dan PT Kideco Jaya Agung (Kideco)—dua anak perusahaan Indika Energy Group—memulai eksperimen mereka. Mereka menerjunkan EV light vehicle langsung ke jantung operasional tambang di Paser, Kalimantan Timur. Dan hasilnya? Mind-blowing!
Dari Jalanan Mulus ke Medan Tambang: Siapa Takut?
Uji coba yang digelar mulai 13 Agustus hingga 20 September 2026 ini bukan sekadar pamer teknologi. Mereka membawa dua jagoan: sebuah double cabin dengan baterai 88,02 kWh dan sebuah MPV listrik berkapasitas baterai 64,7 kWh.
Tujuannya jelas: menguji apakah kendaraan tanpa suara ini sanggup bertahan hidup di bawah tekanan ekstrem tambang yang biasanya dikuasai mesin diesel yang meraung-raung.
Dan angka bicara lebih lantang daripada sekadar teori di atas kertas:
- Double Cabin (Baterai 88,02 kWh): Melibas jarak hingga 1.526 km dengan efisiensi energi 3,12 km/kWh, mencatat penghematan biaya energi fantastis sebesar 76%, serta memangkas emisi hingga 65% dibandingkan kendaraan berbasis BBM.
- MPV Listrik (Baterai 64,7 kWh): Menempuh jarak sejauh 2.097 km dengan efisiensi luar biasa di angka 5,02 km/kWh, menghasilkan penghematan biaya energi hingga 80%, serta pemotongan emisi sebesar 65% dibandingkan MPV konvensional.
Let that sink in. Penghematan biaya energi menyentuh angka 80%! Kalau dompet perusahaan tambang bisa seefisien itu, bos-bos besar tentu bakal tersenyum lebar.
Mengapa Ini Sebuah Revolusi?
Bagi Direktur Utama Kideco, Kurnia Ariawan, langkah ini adalah kelanjutan logis setelah sukses mengimplementasikan truk listrik di sektor tambang. Mengingat ada sekitar 1.200 unit light vehicle yang beroperasi di area tambang Kideco, potensi elektrifikasinya tentu sangat masif. Kendaraan-kendaraan ini diuji langsung dalam kondisi operasional nyata untuk mengevaluasi performa dan kelayakan teknisnya.
Sementara itu, Direktur Utama KALISTA, Albert Aulia Ilyas, menegaskan bahwa langkah ini membuktikan fleksibilitas ekosistem Fleet-as-a-Service (FaaS) yang mereka tawarkan. Dari bus listrik perkotaan seperti di Transjakarta dan Medan, kini KALISTA sukses merambah medan berat pertambangan demi menghadirkan mobilitas berkelanjutan.
Jadi, apakah masa depan mobil operasional tambang bakal sepenuhnya sunyi tanpa suara knalpot? Jika melihat data uji coba ini, jawabannya sepertinya sudah ada di depan mata. The future is electric, even in the dust!

Post a Comment