Kesetaraan Gender Bukan Lagi CSR, Tapi Strategi Cuan Perusahaan

UNW


Megatrend- Kesetaraan gender di dunia bisnis kini bukan lagi sekadar program CSR, tapi strategi buat cuan dan bertahan lama. Laporan terbaru UN Women, *Unfinished Business (2025)*, mencatat perusahaan dengan jajaran eksekutif yang setara gender punya peluang 25% lebih tinggi cetak profit di atas rata-rata. Tapi realitanya masih timpang: secara global perempuan cuma dapat 80% gaji laki-laki dan baru isi 30% kursi manajerial. Risikonya makin besar di era AI karena pekerjaan perempuan 27,6% rentan tergantikan otomatisasi, dibanding laki-laki 21,1%. Di Indonesia, potretnya sama, TPAK perempuan baru 56,63%, jauh di bawah laki-laki 84,40% (BPS 2025).


Sinyal pergeseran besar justru terlihat dari antusiasme Indonesia WEPs Awards 2026. Ajang dua tahunan dari UN Women dan UN Global Compact ini menerima 142 aplikasi dari 94 perusahaan tahun ini, tertinggi di Asia Pasifik. Padahal prinsip WEPs sendiri sudah diadopsi 11.500 perusahaan di 180 negara, termasuk 251 di Indonesia. "Antusiasme tahun ini bukan sekadar soal angka, melainkan tanda pergeseran paradigma yang besar. Perusahaan kini menyadari bahwa kesetaraan gender adalah keunggulan kompetitif," ujar Dwi Yuliawati, Head of Programmes UN Women Indonesia.


Lonjakan ini tidak terjadi tiba-tiba. Ada tiga pendorong utama: investor, talenta, dan rantai pasok. Di tengah standar ESG yang makin ketat, investor menuntut bukti dampak sosial yang nyata, bukan janji. Dari dalam, karyawan juga makin vokal menuntut tempat kerja yang adil. "Kesetaraan gender bukan semata isu perempuan. Ketika perusahaan memformalkan kesetaraan upah dan dukungan pengasuhan, perempuan dapat kesempatan setara, laki-laki bisa lebih hadir sebagai ayah, dan perusahaan dapat talenta lebih beragam. Bisnis yang kehilangan talenta perempuan kemungkinan besar kehilangan potensi inovasi," tegas Dwi. Dampaknya merembet sampai ke UKM, karena korporasi besar kini memasukkan kriteria responsif gender dalam seleksi pemasok lewat kebijakan *inclusive procurement*.


Bahwa ini bukan jargon, dibuktikan dua peserta sebelumnya. Schneider Electric Indonesia melihat teknisi perempuan global masih di bawah 3%, lalu menjawabnya lewat Women Electrician Bootcamp yang membekali skill teknis, safety, dan pendampingan ahli untuk membangun *talent pipeline*. Sementara Cimory lewat program Miss Cimory sejak 2013 mengubah ibu rumah tangga jadi agen penjualan mandiri yang dibekali literasi keuangan. "Pemberdayaan perempuan bukan sekadar program sosial, melainkan bagian dari model bisnis kami," kata Hendri Viarta, Direktur Eksekutif Miss Cimory. Berawal dari 3 agen, kini jaringannya tembus lebih dari 10.000 perempuan di 17 provinsi.


Tahun ini WEPs Awards juga makin relevan dengan meluncurkan kategori baru: Tech & AI for Gender Equality, yang mengapresiasi perusahaan yang pakai teknologi secara etis untuk memperluas akses kesehatan, finansial, hingga mengurangi bias di kantor. Kategori ini melengkapi lima kategori lain seperti Leadership Commitment hingga Inclusive Procurement. Yang bikin ajang ini beda, penilaiannya sepenuhnya tidak berbayar dan dinilai juri independen berdasarkan praktik nyata, bukan janji di PowerPoint. Para pemenang akan diumumkan pada puncak acara 29 Oktober 2026 yang untuk pertama kalinya digelar sebagai *flagship event* dengan talkshow dan sesi berbagi praktik baik.

Post a Comment

Previous Post Next Post