![]() |
| BIB |
Megatrend- Di tengah perang merebut talenta terbaik, program pensiun yang kuat bisa jadi pembeda perusahaan sebagai tempat kerja ideal. Tapi faktanya, banyak pemilik dan manajemen masih mikir panjang sebelum mendirikan dana pensiun. Alasannya klasik: takut beban keuangan jangka panjang dan ribet ngurusnya.
Menjawab keraguan itu, PT Barron Insurance Brokers (BPA Brokers), pialang asuransi berlisensi OJK, menegaskan perannya sebagai konsultan pendamping. Bukan sekadar jual produk, tapi bantu perusahaan menyiapkan masa purnabakti karyawan secara terencana, terukur, dan berkelanjutan.
"Mendirikan Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) kerap menjadi tonggak yang membanggakan bagi pendiri dan pemilik perusahaan. Bagi karyawan, program ini memberi rasa aman bahwa kerja keras mereka dihargai hingga usia purnabakti," ujar President Director BPA Brokers, M.K. Rangganata, Selasa (20/10).
RKD Bisa Naik Turun, Itu Wajar
Rangganata mengakui, pengelolaan dana pensiun, apalagi yang berbasis Manfaat Pasti, memang dinamis. Rasio Kecukupan Dana (RKD) bisa naik-turun ikut kondisi pasar, sehingga perusahaan kadang perlu top-up iuran tambahan. Tapi itu wajar dan bisa diantisipasi.
"Keputusan soal dana pensiun sebaiknya dilihat sebagai bagian dari strategi jangka panjang, sebagai wujud kepedulian perusahaan. Keraguan biasanya muncul karena perusahaan belum punya gambaran utuh tentang pilihan yang tersedia. Tidak ada pendekatan one size fits all," katanya.
Direktur BPA Brokers, Dede Hikmat Adhari, menjelaskan ada 4 layanan pendampingan yang mereka siapkan:
- Kajian Keberlanjutan: Analisis strategi penguatan finansial bagi perusahaan yang mau mempertahankan DPPK.
- Perencanaan Migrasi: Menyusun transisi yang aman dan sesuai regulasi OJK bagi yang mau beralih ke Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP).
- Pemilihan DPLK dan Anuitas: Rekomendasi penyedia DPLK dan asuransi anuitas terbaik yang ada di market.
- Asistensi Menyeluruh: Pendampingan koordinasi dengan aktuaris, regulator, dan pihak terkait.
"Kami tidak hanya memberi rekomendasi di atas kertas. Kami mendampingi klien dari awal sampai selesai. Dengan perencanaan yang tepat, dana pensiun bisa dikelola tanpa mengganggu fleksibilitas keuangan perusahaan," ungkap Dede.
Rekam jejaknya pun sudah teruji. Klien BPA Brokers merentang dari LSM internasional, jajaran bank swasta nasional, Bank Pembangunan Daerah (BPD) terkemuka, hingga perusahaan penyedia alat berat terbesar di Indonesia.
*Aset Pensiun Masih Terpusat di Jakarta*
Kebutuhan program pensiun ini tidak cuma ada di Jakarta. Pertanyaan serupa datang dari Jabodetabek, Jawa Timur, hingga Kalimantan Timur, dari sektor industri, energi, tambang, sampai jasa dan perdagangan.
Data OJK per Juli 2025 menunjukkan aset dana pensiun di DKI Jakarta mencapai Rp 326,94 triliun atau sekitar 83% dari total nasional. Disusul Jawa Barat Rp 25,5 triliun, Banten Rp 6,12 triliun, Jawa Timur Rp 4,52 triliun, dan Kalimantan Timur Rp 2,27 triliun.
Angka ini menegaskan penyelenggaraan dana pensiun masih sangat berpusat di ibu kota, padahal kebutuhan di daerah sama besarnya.
"Kebutuhan akan program pensiun yang tertata ada di setiap perusahaan, di mana pun lokasinya. Kami siap menjadi konsultan pendamping dengan pendekatan yang disesuaikan karakter, skala, dan tujuan masing-masing perusahaan," tutup Dede.

Post a Comment