| Pamerindo |
Megatrend - Pameran mitigasi kebencanaan Asia Disaster Management & Civil Protection Expo (ADEXCO) 2026 akan menjadi wadah kolaborasi berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem kebencanaan nasional dan mendorong ketangguhan berkelanjutan di Indonesia.
Deputi Bidang Sistem dan Strategi Dr. Raditya Jati mengatakan penyelenggaraan ADEXCO 2026 yang menjadi bagian dari Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series 2026 tidak sekadar menampilkan produk maupun teknologi kebencanaan, melainkan menghadirkan ruang kolaborasi bagi unsur pentaheliks.
"ADEXCO 2026 bukan sekadar pameran, melainkan ruang untuk mempertemukan pemerintah, dunia usaha, akademisi, teknologi, dan masyarakat," kata Raditya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, tantangan kebencanaan saat ini membutuhkan ekosistem industri yang tidak hanya menyediakan peralatan fisik, tetapi juga didukung data, teknologi, inovasi pembiayaan, serta tata kelola yang dapat diterapkan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
ADEXCO 2026 dijadwalkan berlangsung pada 9-12 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, dengan mengusung tema "Sustainability for Industrial Transformation". Kegiatan tersebut akan mencakup pameran produk dan teknologi, forum internasional, sesi khusus ketangguhan dan respons bencana, program edukasi, hingga kegiatan sosial melalui "Run for Charity".
Dalam pameran itu, berbagai solusi dan teknologi akan ditampilkan mulai dari respons darurat, sistem peringatan dini, pemantauan lingkungan, teknologi pemetaan, layanan kesehatan, hingga pemulihan dan rekonstruksi pascabencana. Kehadiran berbagai sektor tersebut diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, dan penyedia teknologi kebencanaan.
BNPB juga menjajaki kerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) guna mengintegrasikan perspektif pengurangan risiko bencana dalam sektor energi dan pertambangan. Pembahasan mencakup mitigasi risiko kebencanaan industri, geofisika pertambangan, hingga pemulihan pascabencana.
Menjelang pelaksanaan ADEXCO 2026, BNPB bersama mitra telah menggelar sejumlah kegiatan pendukung, antara lain Seminar Nasional Kebencanaan pada April 2026 serta rangkaian diskusi publik "Ngobrol Pintar Bareng BNPB" yang membahas isu komunikasi bencana, teknologi drone, pembangunan hunian pascabencana, dan tata kelola kebencanaan berkelanjutan.
Selain itu, BNPB juga mengangkat pembelajaran ketangguhan dari pengalaman penanganan pascagempa Yogyakarta selama dua dekade terakhir sebagai salah satu praktik baik penguatan resiliensi daerah.
Indonesia, lanjut Raditya, terus mendorong konsep ketangguhan berkelanjutan yang mengintegrasikan agenda pengurangan risiko bencana, adaptasi perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan. Gagasan tersebut telah dibawa dalam berbagai forum internasional, termasuk G20, GPDRR 2025 di Jenewa, serta forum ASEAN.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan ADEXCO 2026, BNPB juga akan menyelenggarakan The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR) 2026 dengan tema "Global Resilience Recharged: From Fragmented Action to Aligned Impact". Forum dua tahunan itu diharapkan menjadi ajang pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik untuk memperkuat keterhubungan antara kebijakan, inovasi, investasi, dan implementasi dalam membangun ketahanan yang lebih terintegrasi.
BNPB menegaskan bahwa penguatan ketangguhan bencana harus menjadi upaya bersama yang melibatkan berbagai pihak, baik di tingkat nasional maupun internasional, mengingat tantangan kebencanaan tidak dapat dihadapi secara sendiri-sendiri.
Post a Comment